A. Akuntansi dalam
Perspektif Global
1.
Pengertian Prespektif Global
Berdasarkan Kamus Bahasa Indonesia
Modern, perspektif diartikan sebagai cara melukiskan benda pada permukaan datar
sebagaimana yang terlihat, dan sudut pandangan. Kata global
berasal dari kata “globe” dan mulai dimaksudkan sebagai planet yang berarti
bumi bulat.
Menurut asal kata, perspektif global
dapat dibagi menjadi dua, yaitu kata perspektif dan global, perspektif artinya
wawasan/cara pandang dan global yang artinya menyeluruh/mendunia. Jadi,
perspektif global artinya wawasan atau cara pandang yang menyeluruh atau
mendunia.
Namun secara ilmiah, perspektif global adalah wawasan atau cara pandang
mengenai fenomena secara keseluruhan, yakni fenomena adanya interaksi,
interdependensi, dan kompetisi antar umat manusia di muka bumi (Sriartha, 2004:
5). Interaksi merupakan kegiatan saling memengaruhi daya, objek, atau
tempat yang satu dengan tempat lainnya. Setiap tempat mengembangkan potensi
sumber daya alamnya dan kebutuhan yang tidak selalu sama dengan tempat lain.
Perbedaan tersebut mengakibatkan terjadinya interaksi dan interdependensi
antarwilayah. Contohnya interaksi yang terjadi antara desa dengan kota, dalam
pendistribusian bahan pangan dari desa ke kota. Begitu pula sebaliknya,
pengangkutan mesin pertanian dari kota ke desa. Kompetisi terjadi karena
keinginan untuk bersaing atau bertahan antar umat manusia di muka bumi.
Menurut para ahli perspektif global diartikan sebagai:
1. Menurut Sumaatmadja dan
Winardit (1999) dalam Bawa Atmadja (2007) mengungkapkan bahwa pengertian
perspektif global adalah suatu cara pandang dan cara berperilaku terhadap suatu
masalah atau kejadian atau kegiatan dari sudut kepentingan global, yakni dari
sisi kepentingan dunia atau internasional.
2. Menurut
Suhanadji dan Waspada TS (2004) mengungkapkan bahwa perspektif global adalah
cara pandang atau wawasan untuk melihat dunia saat ini sangat dipengaruhi oleh
arus global. Sehingga semua bangsa menjadi saling ketergantungan, saling
mempengaruhi dan saling berhubungan diantara berbagai kebudayaan, sistem
ekologi, politik, ekonomi dan teknologi dalam konteks global. Kebudayaan di
dunia ini sangat beragam antar berbagai belahan negara di dunia. Dimana
masing-masing kebudayaan tersebut memiliki ciri khas tersendiri.
Perspektif global merupakan pandangan
yang timbul dari kesadaran bahwa dalam kehidupan ini
segala sesuatu selalu berkaitan dengan isu global. Orang sudah tidak
memungkinkan lagi bisa mengisolasi diri dari pengaruh global. Manusia merupakan
bagian dari pergerakan dunia, oleh karena itu harus memperhatikan kepentingan
sesama warga dunia.
Tujuan umum pengetahuan tentang
perspektif global adalah selain untuk menambah wawasan juga untuk menghindarkan
diri dari cara berpikir sempit, terkotak oleh batas-batas subyektif, primordial
(lokalitas) seperti perbedaan warna kulit, ras, nasionalisme yang sempit, dsb.
Melihat dari beberapa pengertian di
atas, maka dapat dilihat ciri-ciri orang yang mempunyai wawasan global antara
lain:
1. Berpikir secara luas atau tidak terkotak-kotak.
2. Mau bekerjasama atau berinteraksi secara harmonis
(selaras).
3. Mampu berkompetisi.
2.
Perspektif Global Dari
Praktik Akuntansi
AMERIKA
Dewasa
ini, AS merupakan kekuatan yang gemilang dalam akuntansi global. AS lebih baik dari
negara-negara lain dalam hal pengeluaran riset akuntansi, jumlah publikasi
akuntansi, dan lulusan perguruan tinggi yang memiliki konsentrasi akuntansi.
Pengukuran
Aset dan Kewajiban
Istilah aset tidak memiliki arti yang pasti, dalam hal
sumberdaya mana yang harus dimasukkan dan sumberdaya mana yang harus
dikeluarkan. Demikian juga, istilah tersebut meliputi interpretasi atas
aset-aset tak berwujud seperti goodwill, dan R&D. Di Amerika Selatan,
definisi aset termasuk kerugian-kerugian yang timbul karena memiliki hutang
dalam satuan valuta asing. Di negara-negara Eropa Daratan, aset mungkin tidak
meliputi berbagai tipe sewa guna usaha, tax loss carry-forwards, atau
kepemilikan ekonomi dalam perusahaan-perusahaan afiliasi.
Konsep kewajiban diaplikasikan berbeda dari satu negara ke
negara lain. Akuntansi bagi pajak penghasilan memberikan contoh spesifik. Di
Argentina misalnya kewajiban pajak penghasilan tidak diakrualkan dan dicatat
berdasarkan basis kas saja. Di Swiss, pencatatan akrual periodik terjadi tanpa
pengakuan terhadap kewajiban pajak penghasilan yang tertunda.
Kewajiban-kewajiban tertunda mungkin memerlukan beberapa metode alokasi yang
berbeda. Di Belanda, nilai pajak penghasilan yang tertunda kadang-kadang
merupakan nilai yang didiskontokan.
AUSTRALIA
Tradisi
dan kebiasaan Inggris memberi ciri yang signifikan pada Australia walaupun
akhir-akhir ini Australia lebih cenderung mengara ke pola Amerika.
Perbedaan-perbedaan akuntansi keuangan dan praktik-praktik pelaporan antara
Inggris dan Australia semakin meningkat. Gagasan Pan-Pasik sedang tumbuh di
Australia, gagasan Komunitas Eropa tumbuh di Inggris.
Dua badan
akuntansi profesional Australia adalah Institute of Chartered Accountants in
Australia (ICAA) dan Australian Society of Accountants (ASA). ICAA memiliki
keanggotaan kira-kira 20.000 dan terkait erat dengan audit dan praktik publik.
Keanggotaan ASA kira-kira 60.000, terutama wakil dari sektor publik.
JEPANG
Akuntansi
dan pelaporan keuangan Jepang merupakan bunga rampai dari begitu banyak eksternalitas
domestik dan internasional. Di permukaan, laporan keuangan korporasi Jepang
tampaknya mirip dengan perusahaan-perusahaan sejenis dari Inggris-Amerika.
Namun, sebenarnya, kandungan informasi laporan keuangan korporasi Jepang
berbeda secara substansial.
Penyusunan
standar akuntansi di Jepang terutama merupakan fungsi pemerintah dengan
sejumlah input pendukung dari JICPA. Semua perusahaan yang dibentuk berdasarkan
undang-undang komersial diwajibkan untuk memenuhi ketentuan-ketentuan
akuntansinya, yang terkandung dalam “peraturan-peraturan” yang berkaitan dengan
:
a)
Neraca
b)
Laporan Laba Rugi
c)
Laporan Bisnis
d)
Usulan bagi Pembagian Laba
e)
Skedul-skedul Pendukung
INGGRIS
United
Kingdom of Great Britain and Northern Ireland terdiri dari empat negara,
Inggris, Skotlandia, Wales, dan Pulau Utara. Walaupun UK memiliki sistem hukum
dan kebijakan moneter dan fiskal serta aturan-aturan dan regulasi-regulasi
sosial tunggal yang terpadu, perbedaan-perbedaan individual tetap ada di dalam
keempat negara tersebut.
Aktivitas
perusahaan yang didirikan di UK diatur secara luas oleh perundang-undangan yang
bernama Companies Acts, yang merupakan hukum nasional. Legislasi yang menonjol
adalah Companies Acts 1948, yang selanjutnya diamandemenkan secara substansial
pada tahun 1967, 1976, 1980, dan 1981. Companies Act 1985 mengkonsolidasikan
dan secara signifikan memperluas legilasi-legilasi sebelumnya dengan amandemen
tambahan penting yang muncul tahun 1989. Tahun-tahun legislasi ini mengindikasikan
tingginya frekuensi diperbaharuinya dan/atau diamandemenkan legislasi
perusahaan-perusahaan Inggris. Yang perlu dicatat bahwa amandemennya tahun 1981
membawa ketentuan-ketentuan directive ke-4 EC kedalam hukum perusahaan Inggris
dan amandemen tahun 1989 secara khusus mengakui ketentuan-ketentuan dari
directive ke-7 dan ke-8 EC. Badan-badan akuntansi utama di UK adalah :
1.
The Institute of Chartered Accountants in England and Wales
2.
The Institute of Chartered Accountants in Ireland
3.
The Institute of Chartered Accountants in Scotland
4.
The Chartered Association of Certified Accountants
5.
The Institute of Cost and Management Accountants
6.
The Chartered Institute of Public Finance and Accountancy
Seperti di
Australia, hukum perusahaan UK memuat persoalan-persoalan akuntansi dalam apa
yang dinamakan skedul (misalnya, format alternatif untuk neraca dan laporan R/L
terdapat dalam skedul 4 dan 4a 1985 Act).
Lima
prinsip akuntansi dasar yang tercantum langsung dalam perundang-undangan adalah
:
1.
Pencocokan pendapatan dan beban berdasarkan beban akrual
2.
Penilaian item-item aset dan kewajiban individual secara
terpisah dalam masing-masing kelas aset dan kewajiban
3.
Penerapan prinsip-prinsip konservatisme, terutama dalam
pengakuan realisasi laba dan semua kewajiban dan kerugian yang diketahui
4.
Kewajiban penerapan kebijakan-kebijakan akuntansi secara
konsisten dari tahun ke tahun
5.
Anggapan bahwa prinsip kelangsungan usaha dapat diterapkan
pada entitas yang bersangkutan.
B. Perkembangan Klasifikasi Akuntansi Internasional
1. Faktor-Faktor
Yang Mempengaruhi Perkembangan Dunia Akuntansi
Akuntansi
Internasional adalah
akuntansi untuk transaksi internasional, perbandingan prinsip akuntansi antar
negara yang berbeda dan harmonisasi berbagai standar akuntansi dalam bidang
kewenangan pajak, auditing dan bidang akuntansi lainnya. Akuntansi harus berkembang agar mampu memberikan
informasi yang diperlukan dalam pengambilan keputusan di perusahaan pada setiap
perubahan lingkungan bisnis.
Beberapa karakteristik era
ekonomi global yang ada dalam akuntansi internasional antara lain:
1. Bisnis internasional
2. Hilangnya
batasan-batasan antar Negara era ekonomi global sering sulit untuk mengindentifikasi Negara asal suatu produk
atau perusahaan, hal ini terjadi pada perusahaan multinasional
3. Ketergantungan
pada perdagangan internasional
Menurut Choi dan
Muller (1998; 1) Bahwa ada tiga kekuatan utama yang mendorong bidang akuntansi
internasional kedalam dimensi internasional yang terus tumbuh, yaitu
1. Faktor lingkungan,
2. Internasionalisasi dari disiplin akuntansi, dan
3. Internasionalisasi dari profesi akuntansi.
Tantangan bagi profesi akuntan dalam
pengembangan akuntansi :
1. Skill
dan kompetensi yang dimiliki
2. Memahami
Cross Functional Linkages
Akuntan
tidak hanya cukup mahir dalam teknik, prosedur dan standar akuntansi tetapi
juga harus biasa memandang bisnis sebagai suatu bentuk terintegrasi. Seperti :
kualitas produk, fleksibilitas produksi dan kemampuan untuk memproduksi dan
mengekspor dengan cepat agar bisa memenangkan persaingan global
3. Analisis
keuangan dan perbandingannya
Perkembangan
Akuntansi Internasional sudah seharusnya diiringi oleh kemampuan individu yang
bergerak dalam bidang akuntansi untuk ikut andil memajukan akuntansi. Akuntansi
Internasional merupakan penghubung antarnegara. Delapan faktor yang
mempengaruhi perkembangan akuntansi internasional harus dipahami dengan baik
agar tercipta harmonisasi antarnegara yang bertransaksi.
Selain itu ada delapan (8) factor yang mempengaruhi perkembangan akuntansi
internasional, yaitu :
1. Sumber
pendanaan
Di Negara-negara dengan pasar ekuitas yang kuat, seperti
Amerika Serikat akuntansi memiliki focus atas seberapa baik manajemen
menjalankan perusahaan (profitabilitas), dan dirancang untuk membantu investor
menganalisis arus kas masa depan dan resiko terkait. Pengungkapan
dilakukan sangat lengkap untuk memenuhi ketentuan kepemilikan public yang luas.
Sebaliknya, dalam sistem berbasis kredit di mana bank merupakan sumber utama
pendanaan, akuntansi memiliki focus pada perlindungan kreditor melalui
pengukurang akuntansi yang konservatif dalam meminimumkan pembayaran dividen
dan menjaga pendanaan yang mencukupi dalam rangka perlindungan bagi para
peminjam. Oleh karena lembaga keuangan memilki akses langsung terhadap
informasi apa saja yang diinginkan, pengungkapan public yang luas dianggap
tidak perlu. Contohnya adalah Jepang dan Swiss.
2. Sistem Hukum
Dunia barat memiliki dua orientasi dasar: hukum
kode (sipil) danhukum umum (kasus). Dalam
Negara-negara hukum kode, hukum
merupakan satu kelompok lengkap yang mencakup ketentuan dan prosedur sehingga
aturan akuntansi digabungkan dalam hukum nasional dan cenderung sangat lengkap.
Sebaliknya, hukum umum berkembang
atas dasar kasus per kasus tanpa adanya usaha untuk mencakup seluruh kasus
dalam kode yang lengkap. Kodifikasi hukum
utamanya diambil dari hukum Romawi dank ode Napoleon. Dalam Negara-negara yang
menganut sistem kodifikasi hukum Latin-Romawi, hukum merupakan suatu kelompok
lengkap yang mencakup ketentuan dan prosedur. Kodifikasi standar dan prosedur
akuntansi merupakan hal yang wajar dan sesuai di sana. Dengan demikian, di
Negara-negara yang menganut kodifikasi hukum, aturan akuntansi digabungkan
dalam hukum nasional dan cenderung sangat lengkap dan mencakupi banyak
prosedur. Sebaliknya, hukum umum berkembang atas dasar kasus per kasus tanpa
adanya usaha untuk mencakup seluruh kasus dalam kode lengkap. Tentu saja,
terdapat hukum dasar, tetapi cenderung tidak terlalu detail dan lebih fleksibel
bila dibandingkan dengan sistem kodifikasi umum. Hal ini mendorong usaha
coba-coba dan memungkinkan penerapan pertimbangan. Hukum umum diambil dari
kasus hukum Inggris. Pada kebanyakan Negara hukum umum, aturan akuntansi
ditetapkan oleh organisasi professional sector swasta. Hal ini memungkinkan
aturan akuntansi menjadi lebih adaptif dan inovatif. Kecuali untuk ketentuan
dasar yang luas, kebanyakan aturan akuntansi tidak digabungkan secara langsung
ke dalam hukum dasar. Kodifikasi hukum (kode hukum) cenderung terpaku pada
muatan (isi) ekonominya. Sebagai contoh, sewa guna usaha di bawah aturan hukum
umum biasanya tidak dikapitalisasi. Sebaliknya, sewa guna usaha di bawah hukum
umum pada dasarnya dapat dikapitalisasi jika ia menjadi bagian dari pembeli
property.
3. Perpajakan
Di
kebanyakan Negara, peraturan pajak secara efektif menentukan standar karena
perusahaan harus mencatat pendapatan dan beban dalam akun mereka untuk
mengklaimnya untuk keperluan pajak. Dengan kata lain,
pajak keuangan dan pajak akuntansi adalah sama. Dalam kasus ini, sebagai contoh
adalah kasus yang terjadi di Jerman dan Swedia. Di Negara lain seperti Belanda,
akuntansi keuangan dan pajak berbeda: laba kena pajak pada dasarnya adalah laba
akuntansi keuangan yang disesuaikan terhadap perbedaan-perbedaan dalam hukum
pajak. Tentu saja, ketika akuntansi keuangan dan pajak terpisah, kadang-kadang
aturan pajak mengharuskan penerapan prinsip akuntansi tertentu. Penilaian
persediaan menurut Masuk Terakhir Keluar Pertama (last-in, first-out- LIFO) di
Amerika Serikat merupakan suatu contoh.
4. Ikatan Politik dan Ekonomi
Faktor Politik & Ekonomi sangat mempengaruhi
perkembangan akuntansi internasional karena kebijakan pemerintah dan keadaan
ekonomi saat itu di suatu negara dapat membuat akuntansi sulit berkembang. Ide
dan teknologi akuntansi dialihkan melaui penakhlukan, perdagangan dan kekuatan
sejenis. Sistem pencatatan berpasangan (double-entry) yang berawal di Italia
pada tahun 1400-an secara perlahan-lahan menyebar luas di Eropa bersamaan
dengan gagasan-gagasan pembaruan (rannaissance) lainnya. Kolonialisme Inggris
mengekspor akuntan dan konsep akuntansi di seluruh wilayah kekuasaan Inggris.
Pendudukan Jerman selama perang dunia II menyebabkan Perancis menerapkan Plan
Comptable. Amerika Serikat memaksa rezim pengatur akuntansi bergaya AS di
Jepang setelah berakhirnya perang dunia II. Banyak Negara-negara berkembang
menggunakan sistem akuntansi yang dikembangkan di tempat lain, entah karena
dipaksakan kepada negara-negara tersebut (seperti India) atau karena pilihan
mereka sendiri (seperti Negara-negara Eropa Timur sekarang meniru sistem
akuntansi menurut aturan Uni Eropa (EU).
5. Inflasi
Inflasi menyebabkan distorsi terhadap akuntansi biaya
histories dan mempengaruhi kecenderungan (tendensi) suatu Negara untuk
menerapkan perubahan terhadap akun-akun perusahaan.
6. Tingkat
Perkembangan Ekonomi
Faktor
ini mempengaruhi jenis transaksi usaha yang dilaksanakan dalam suatu
perekonomian dan menentukan manakah yang paling utama. Pada gilirannya, jenis
transaksi menentukan masalah akuntansi yang dihadapi. Sebagai contoh,
kompensasi eksekutif perusahaan berbasis saham atau sekuritisasi asset
merupakan sesuatu yang jarang terjadi dalam perekonomian dengan pasar modal
yang kurang berkembang. Saat ini, banyak perekonomian industry berubah menjadi
perekonomian jasa. Masalah akuntansi seperti penilaian asset tetap dan
pencatatan depresiasi yang sangat relevan dalam sector manufaktur menjadi semakin
kurang penting. Tantangan-tantangan akuntansi yang baru, seperti penilaian
asset tidak berwujud dan sumber daya manusia semakin berkembang.
7. Tingkat Pendidikan
Standar
dan praktik akuntansi yang sangat rumit (sophisticated) akan menjadi tidak
berguna jika disalahartikan dan disalahgunakan. Sebagai contoh pelaporan teknis
yang kompleks mengenai varian perilaku biaya tidak akan berarti apa-apa,
kecuali para pembaca memahami akuntansi biaya. Pengungkapan mengenai resiko
efek derivative tidak akan informative kecuali jika dibaca oleh pihak yang
berkompeten. Pendidikan akuntansi yang professional sulit dicapai jika taraf
pendidikan di suatu Negara secara umum juga rendah. Meksiko adalah salah satu
contoh Negara di mana permasalahan ini telah berhasil ditanggulangi. Pada
situasi lainnya, sebuah Negara harus mengimpor tenaga pelatihan atau mengirim
warganya ke Negara lain untuk memperoleh kualifikasi yang layak. Hal terakhir
inilah yang saat ini sedang diterapkan oleh Cina.
8. Budaya
Di sini budaya berarti nilai-nilai dan
perilaku yang dibagi oleh suatu masyarakat. Variable budaya mendasari
pengaturan kelembagaan di suatu Negara (seperti sistem hukum). Hofstede
mendasari empat dimensi budaya nasional (nilai social):
1. Individualism,
2. Jarak kekuasaan,
3. Penghindaran ketidakpastian, dan
4. Maskulinitas. Analisis yang dilakukannya didasarkan
pada data yang berasal dari para karyawan sebuah perusahaan multinasional besar
dari AS yang beroperasi di 40 negara yang berbeda.
Secara singkat, individualism
merupakan kecenderungan terhadap suatu tatanan social yang tersusun longgar
dibandingkan terhadap tatanan yang tersusun ketat dan saling tergantung. Jarak
kekuasaan adalah sejauh mana hierarki dan pembagian kekuasaan dalam suatu
lembaga dan organisasi secara tidak adil dapat diterima. Penghindaran
ketidakpastian adalah sejauh mana masyarakat tidak merasa nyaman dengan
ambiguitas dan suatu masa depan yang tidak pasti. Maskulinitas adalah sejauh
mana peran gender dibedakan serta kinerja dan pencapaian yang dapat dilihat
(nilai-nilai maskulin yang tradisional) ditekankan daripada hubungan dan
perhatian.
Empat dimensi
budaya nasional menurut Hofstede, yaitu:
a. Individualisme
vs kolektivisme merupakan kecenderungan terhadap suatu tatanan social yang
tersusun longgar dibandingkan terhadap tatanan yang tersusun ketat dan saling
tergantung.
b. Large vs
Small Powr Distance (Jarak kekuasaan) adalah sejauh mana hierarki dan pembagian
kekuasaan dalam suatu lembaga dan pembagian kekuasaan dalam suatu lembaga dan
organisasi secara tidak adil dapat diterima.
c. Strong
vs Weak Uncertainty Avoidance (Penghindaran ketidakpasian) adalah sejauh mana
masyarakat merasa tidak nyaman dengan ambiguitas dan suatu masa depan yang
tidak pasti.
d. Maskulinitas
vs feminimitas adalah sejauh mana peranan gender dibedakan dan kinerja serta
pencapaian yang dapat dilihat lebih ditekankan daripada hubungan dan perhatian.
Choi et. al (1998; 36) menjelaskan
sejumlah faktor lingkungan yang diyakini memiliki pengaruh langsung terhadap pengembangan
akuntansi, antara lain :
1. Sistem Hukum
Kodifikasi
standar-standar dan prosedur-prosedur akuntansi kelihatannya alami dan cocok
dalam negara-negara yang menganut code law. Sebaliknya, pembentukan kebijakan
akuntansi yang non legalistis oleh organisasi-organisasi professional yang
berkecimpung dalam sektor swasta lebih sesuai dengan system yang berlaku di
negara-negara hukum umum (common law). Dalam hukum perang atau situasi darurat
nasonal lainnya, semua aspek fungsi akuntansi mungkin diatur oleh sejumlah
pengadilan atau badan pemerintah pusat. Contohnya adalah dalam masa Nazi
Jerman, ketika persiapan-persiapan perang yang intensif dan kemudian pada saat
PD II memerlukan sistem akuntansi nasional yang sangat seragam untuk mengontrol
semua aktivitas ekonomi nasional secara total.
2. Sistem Politik
Sistem
politik yang ada pada suatu negara pun ikut mewarnai akuntansi, karena sistem
politik tersebut “mengimpor” dan “mengekspor” standar-standar dan
praktik-praktik akuntansi. Sebagai contoh, akuntansi Inggris yang ada semasa
pergantian Abad 20, “diekspor” ke negara-negara persemakmuran. Belanda
melakukan hal yang sama ke filipina dan Indonesia, Perancis ke negara-negara
jajahannya di Asia da Afrika. Jerman menggunakan simpati politik untuk mempengaruhi,
antara lain, akuntansi di Jepang dan Swedia.
3. Sifat Kepemilikan Bisnis
Kepemilikan
publik yang besar atas saham-saham perusahaan menyiratkan prinsip-prinsip
pelaporan dan pengungkapan akuntansi keuangan yang berbeda dengan
perusahaan-perusahaan yang kepemilikannya didominasi oleh keluarga atau bank.
Misalnya, kepemilikan publik yang sangat tinggi atas saham-saham korporasi di
AS telah menghasilkan apa yang dinamakan Sunshine accounting standards of wide
open disclosure, sedangkan ketidakhadiran partisipasi public dalam kepemilikan
saham perusahaan di Perancis telah membatasi komunikasi keuangan yang efektif
hanya ke saluran komunikasi ”insider” saja. Kepemilikan Bank yang tinggi di
Jerman juga menghasilkan respon akuntansi yang berbeda. Di AS, AICPA membuat
rekomendasi khusus bagi standar dan praktik akuntansi keuangan tertentu yang
digunakan oleh perusahaan-perusahaan non publik yang lebih kecil.
4. Perbedaan Besaran dan Kompleksitas Perusahaan-Perusahaan Bisnis
Dikotomi
yang terjadi antara perusahaan besar dan kecil terus berlanjut, mulai dari
masalah asuransi, hingga keseluruh hirarki perusahaan induk-anak, termasuk
masalah kompleksitas. Perusahaan konglomerasi besar yang beroperasi dalam lini
bisnis yang sangat beragam membutuhkan teknik-teknik pelaporan keuangan yang
berbeda dengan perusahaan kecil yang menghasilkan produk tunggal.
Perusahaan-perusahaan multinasional juga membuthkan system akuntansi yang
berbeda dengan sistem akuntansi perusahaan-perusahaan domestik.
5. Iklim
Sosial
Iklim
sosial turut memberikan sumbangan dalam pengembangan akuntansi diberbagai
belahan dunia. Di Perancis, mengarah pada pelaporan tanggungjawab sosial,
sebaliknya di Swiss masih sangat konservatif sehingga perusahaanperusahaan
besar swiss melaporkan kondisi keuangannya yang relatif ringkas. Orang Italia
masih sangat berorientasi pada pajak, bahkan di beberapa Negara Amerika bagian
Timur dan Selatan, akuntansi sama dengan pembukuan dan dianggap tidak cocok
secara sosial.
6. Tingkat Kompetensi Manajemen
Bisnis Dan Komunitas Keuangan
Kompetensi
atau kemampuan manajemen bisnis dan pengguna dari output akuntansi akan sangat
menentukan perkembangan akuntansi. Karena secanggih dan sehebat apapun output
akuntansi, jika manajemen bisnis dan para pengguna tidak dapat membaca,
mengartikan, dan memahaminya hal tersebut tidak akan ada gunanya.
7. Tingkat Campur Tangan Bisnis
Legislatif
Regulasi
mengenai perpajakan mungkin memerlukan prinsip-prinsip akuntansi tertentu.
Seperti di Swedia, dimana kelonggaran pajak tertentu harus dibukukan secara
akuntansi sebelum bisa diklaim bagi tujuan pajak; ini juga merupakan situasi
bagi penilaian persediaan metode LIFO di AS. Hukum-hukum perlindungan sosial
yang beragam juga mempengaruhi standar-standar akuntansi. Contohnya adalah kewajiban
membayar pesangon dio beberapa negara Amerika Selatan.
8. Ada Legislasi Akuntansi
tertentu
Dalam
beberapa kasus, terdapat peraturan legislative khusus untuk aturan-aturan dan
teknik-teknik akuntansi tertentu. Di AS, SEC menentukan standar-standar pengungkapan
dan akuntansi bagi perusahaan-perusahaan besar, dengan mengacu pada FASB.
9. Kecepatan Inovasi Bisnis
Semula,
kegiatan merger dan akuisisi tidak diperhitungkan secara akuntansi, namun
karena penggabungan bisnis yang begitu popular di erofa memaksa akuntansi turut
berkembang untuk memenuhi kebutuhan dari mereka yang berkepentingan.
10. Tahap pembangunan Ekonomi
Negara
yang masih mengandalkan ekonomi pertanian membuthkan prinsipprinsip akuntansi
yang berbeda dengan negara industri maju. Di negara pertanian, tingkat
ketergantungan pada kredit dan kontrak bisnis jangka panjang mungkin masih
kecil. Sehingga akuntansi akrual yang canggih tidak berguna dan yang dibutuhkan
adalah akuntansi kas sederhana.
11. Pola pertumbuhan Ekonomi
Kondisi
perekonomian yang stabil mendorong peningkatan persaingan memperebutkan
pasar-pasar yang ada sehingga memerlukan suatu pola akuntansi yang stabil dan
akan jauh berbeda pada negara yang kondisinya sedang mengalami perang
berkepanjangan.
12. Status Pendidikan dan Organisasi
Profesional
Karena
ketiadaan profesionalisme akuntansi yang terorganisir dan sumber
otoritas akuntansi local suatu negara, standar-standar dari area lain atau negara lain mungkin digunakan untuk mengisi kekosongan tersebut. Adaptasi faktorfaktor akuntansi dari Inggris merupakan pengaruh lingkungan yang signifikan dalam akuntansi dunia sampai akhir PD II. Sejak saat itu, proses adaptasi internasional beralih ke sumber-sumber dari AS. Pengembangan akuntansi, baik yang berasal dari negara itu sendiri atau yang diadaptasi dari negara-negara lain, tidak akan sukses kecuali jika kondisi-kondisi lingkungan seperti yang terdapat dalam daftar diatas dipertimbangkan secara penuh.
otoritas akuntansi local suatu negara, standar-standar dari area lain atau negara lain mungkin digunakan untuk mengisi kekosongan tersebut. Adaptasi faktorfaktor akuntansi dari Inggris merupakan pengaruh lingkungan yang signifikan dalam akuntansi dunia sampai akhir PD II. Sejak saat itu, proses adaptasi internasional beralih ke sumber-sumber dari AS. Pengembangan akuntansi, baik yang berasal dari negara itu sendiri atau yang diadaptasi dari negara-negara lain, tidak akan sukses kecuali jika kondisi-kondisi lingkungan seperti yang terdapat dalam daftar diatas dipertimbangkan secara penuh.
Seperti halnya
dunia bisnis pada umumnya, praktik-praktik akuntansi beserta pengungkapan
informasi finansial di perusahaan di berbagai negara dipengaruhi oleh berbagai
faktor. Radebaugh dan Gray (1997:47) menyebutkan sedikitnya ada dua belas
faktor yang mempengaruhi sistem akuntansi perusahaan. Faktor-faktor tersebut
adalah sifat kepemilikan perusahaan, aktivitas usaha, sumber pendanaan dan
pasar modal, sistem perpajakan, eksistensi dan pentingnya profesi akuntan,
pendidikan dan riset akuntansi, sistem politik, iklim sosial, tingkat
pertumbuhan ekonomi dan pembangunan, tingkat inflasi, sistem
perundang-undangan, dan aturan-aturan akuntansi.
Lebih rinci, Radebaugh dan Gray
menjelaskan hubungan antara faktor-faktor tersebut di atas dengan sistem
akuntansi perusahaan sebagai berikut:
1. Sifat kepemilikan
perusahaan
Kebutuhan
akan pengungkapan informasi dan pertanggungjawaban kepada publik lebih besar
ditemui pada perusahaan-perusahaan yang dimiliki publik dibandingkan dengan
pada perusahaan keluarga.
2. Aktivitas usaha
Sistem
akuntansi dipengaruhi oleh jenis aktivitas usaha, misalnya agribisnis yang
berbeda dengan manufaktur, atau perusahaan kecil yang berbeda dengan perusahaan
multinasional.
3. Sumber pendanaan
Kebutuhan
akan pengungkapan informasi dan pertanggungjawaban kepada publik lebih besar
ditemui pada perusahaan-perusahaan yang mendapatkan sumber pendanaan dari para
pemegang saham eksternal dibandingkan dengan pada perusahaan dengan sumber
pendanaan dari perbankan atau dari dana keluarga.
4. Sistem perpajakan
Negara-negara
seperti Perancis dan Jerman menggunakan laporan keuangan perusahaan sebagai
dasar penentuan utang pajak penghasilan, sedangkan negara-negara seperti
Amerika Serikat dan Inggris menggunakan laporan keuangan yang telah disesuaikan
dengan aturan perpajakan sebagai dasar penentuan utang pajak dan disampaikan
terpisah dengan laporan keuangan untuk pemegang saham.
5. Eksistensi dan pentingnya
profesi akuntan
Profesi
akuntan yang lebih maju di negara-negara maju juga membuat system akuntansi
yang dipakai lebih maju dibandingkan dengan di negara-negara yang masih menerapkan
sistem akuntansi yang sentralistik dan seragam.
6. Pendidikan dan riset
akuntansi
Pendidikan
dan riset akuntansi yang baik kurang dijalankan di negara-negara yang sedang
berkembang. Pengembangan profesi juga dipengaruhi oleh pendidikan dan riset akuntansi
yang bermutu.
7. Sistem politik
Sistem
politik yang dijalankan oleh suatu negara sangat berpengaruh pada sistem
akuntansi yang dibuat untuk menggambarkan filosofi dan tujuan politik di negara
tersebut, seperti halnya pilihan atas perencanaan terpusat (central planning)
atau swastanisasi (private enterprises).
8. Iklim social
Iklim
sosial diartikan sebagai sikap atas penghargaan terhadap hak-hak pekerja dan
kepedulian terhadap lingkungan hidup. Informasi yang berkaitan dengan hal-hal
tersebut pada umumnya dipengaruhi atas sistem sosial tersebut.
9. Tingkat pertumbuhan ekonomi
dan pembangunan
Perubahan
struktur perekonomian dari agraris ke manufaktur akan menampilkan sisi lain
dari sistem akuntansi, antara lain dengan mulai diperhitungkannya depresiasi
mesin. Industri jasa juga memunculkan pertimbangan atas pencatatan aktiva tak
berwujud seperti merek, goodwill dan sumber daya manusia.
10. Tingkat inflasi
Timbulnya
hyperinflation di beberapa negara di kawasan Amerika Selatan membuat adanya
pemikiran untuk menggunakan pendekatan lain sebagai alternatif dari pendekatan
historical cost.
11. Sistem perundang-undangan
Di
negara-negara seperti Perancis dan Jerman yang menggunakan civil codes,
aturan-aturan akuntansi yang dipakai cenderung rinci dan komprehensif, berbeda
dengan Amerika Serikat dan Inggris yang menggunakan common law.
12. Aturan-aturan akuntansi
Standar
dan aturan akuntansi yang ditetapkan di negara tertentu tentunya tidak
sepenuhnya sama dengan negara lain. Peran profesi akuntan dalam menentukan
standar dan aturan akuntansi lebih banyak ditemukan di negara-negara yangtelah
memasukkan aturan-aturan profesional dalam aturan-aturan perusahaan, seperti di
Inggris dan Amerika Serikat. Sementara itu Christopher Nobes dan Robert Parker
(1995:11) menjelaskan adanya tujuh faktor yang menyebabkan perbedaan penting
yang berskala internasional dalam perkembangan sistem dan praktik akuntansi.
Faktor-faktor tersebut antara lain adalah
1. Sistem
hukum,
2. Pemilik
dana,
3. Pengaruh
system perpajakan, dan
4. Kemantapan
profesi akuntan.
5. Inflasi,
6. Teori
akuntansi dan
7. Accidents
of history
C.
Akuntansi Komparatif
Bab ini membahas mengenai sistem akuntansi di enam negara yang
mendominasi perkembangan akuntansi internasional saat ini. Keenam Negara ini
termasuk dalam pendiri Komite Standar Akuntansi Internasional (sekarang Badan
Standar Akuntansi Internasional) yang memiliki peranan penting dalam
mengarahkan agenda IASB. Keenam negara tersebut adalah Prancis, Jerman, Jepang,
Belanda, Inggris, dan Amerika Serikat.
Standar akuntansi
adalah regulasi atau aturan yang mengatur penyusunan laporan keuangan.
Sedangkan proses penyusunan atau formulasi standar akuntansi disebut dengan
penetapan standar. Ada beberapa alasan mengapa standar akuntansi diperlukan,
antara lain:
1.
Dikebanyakan negara
hukuman atas ketidakpatuhan dengan ketentuan akuntansi cenderung lemah dan
tidak efektif.
2.
Perusahaan boleh
melaporkan informasi lebih banyak daripada yang diharuskan secara suka rela.
3.
Beberapa negara
memperbolehkan perusahaan untuk mengabaikan standar akuntansi jika dengan
melakukanya operasi dan posisi keuangan perusahaan akan tersajikan secara lebih
baik hasil.
Penetapan standar akuntansi ini umumnya melibatkan gabungan
kelompok sektor swasta dan publik yang terdiri dari profesi akuntansi dan
kelompok lain yang dipengaruhi oleh proses pelaporan keuangan seperti pengguna
dan penyusun laporan keuangan dan para karyawan. Peranan dan pengaruh kelompok
– kelompok ini dalam penetapan standar akuntansi berbeda dari satu negara ke
negara lain.
Enam Sistem Akuntansi Nasional
1.
Prancis
Prancis merupakan pendukung utama penyeragaman akuntansi nasional
di dunia.Kementrian Ekonomi Nasional menyetujui Plan Comptable General (kode
akuntansi nasional) resmi yang pertama pada bulan September 1947.
Plan Comptable General
berisi:
1.
Tujuan dan prinsip
akuntansi serta pelaporan keuangan.
2.
Definisi aktiva,
kewajiban, ekuita pemegang saham, pendapatan dan beban.
3.
Aturan pengakuan dan
penilaian.
4.
Daftar akun standar,
ketentuan mengenai penggunaannya, dan ketentuan tata buku lainnya.
Contoh laporan keuangan dan
aturan penyajiannya.
Dasar utama aturan
akuntansi di Prancis adalah Hukum Akuntansi 1983 dan Dekrit Akuntansi 1983,
yang membuat Plan Comptable General yang wajib digunakan oleh seluruh perusahaan.
Ciri khusus akuntansi di Prancis adalah terdapatnya dikotomi antara laporan
keuangan perusahaan secara tersendiri dengan laporan keuangan kelompok usaha
yang dikonsolidasika. Meskipun akun – akun perusahaan secara tersendiri harus
memenuhi ketentuan peraturan wajib, hukum memperbolehkan perusahaan Prancis
untuk mengikuti Standar Pelaporan Keuangan Internasional, bahkan prinsip
akuntansi yang diterima umum di AS yaitu GAAP dalam menyusun laporan keuangan
konsolidasi. Alasan utama untuk fleksibilitas ini adalah ketika Direktif
ketujuh UE diberlakukan pada tahun 1986, banyak perusahaan multinasional
Prancis yang telah menyusun laporan keuangan konsolidasi berdasarkan prinsip
Anglo Saxon untuk keperluan pencatatan saham di luar negeri.
Regulasi dan Penegakan Aturan Akuntansi
Di Prancis terdapat lima organisasi yang terlibat dalam proses
penetapan standar yaitu:
1.
Counseil National de la Comptabilite atau CNC (Badan Akuntansi
Nasional)
2.
Comita de la
Reglementation Comptable atau CRC (Komite Regulasi Akuntansi)
3.
Autorite des Marches
Financiers atau AMF (Otoritas Pasar Keuangan)
4.
Orde des Expert –
Comptables atau OEC (Ikatan Akuntan Publik)
5.
Compagnie Nationale
des Commisaires aux Comptes atau CNCC (Ikatan Auditor Kepatuhan Nasional)
Pelaporan Keuangan
Perusahaan Prancis harus melaporkan berikut ini:
a.
Neraca
b.
Laporan Laba Rugi
c.
Catatan atas Laporan
d.
KeuanganLaporan
Direktur dan Laporan Auditor
Laporan keuangan seluruh
perusahaan perseroan dan perusahaan dengan kewajiban terbatas lainnya yang
melebihi ukuran tertentu harus diaudit. Untuk memberikan gambaran yang
sebenarnya dan sewajarnya, laporan keuangan harus disusun sesuai dengan
peraturan dan dengan niat baik. Ciri utama pelaporan di Prancis adalah
ketentuan mengenai pengungkapan catatan kaki yang ekstensif dan detail, yang
meliputi hal – hal berikut:
a.
Penjelasan mengenai
aturan pengukuran yang diberlakukan
b.
Perlakuan akuntansi
untuk pos – pos dalam mata uang asing
c.
Laporan perubahan
aktiva tetap dan depresiasi
d.
Detail provisi
e.
Detail revaluasi
yang dilakukan
f.
Analisis piutang dan
utang sesuai masa jatuh tempo
g.
Daftar anak
perusahaan dan kepemilikan saham
h.
Jumlah komitmen
pension dan imbalan pascakerja lainnya
i.
Detail pengaruh
pajak terhadap laporan keuangan
j.
Rata – rata jumlah
karyawan sesuai golongan
k.
Analisis pendapatan
menurut aktivitas dan geografis
Pengukuran Akuntansi
Akuntansi di Prancis
memiliki karakteristik ganda: perusahaan tersendiri harus mematuhi peraturan
yang tetap, sedangkan kelompok usaha konsolidasi memiliki fleksibilitas lebih
besar. Akuntansi untuk perusahaan individual merupakan dasar hukum untuk
membagikan dividen dan menghitung pendapatan kena pajak.
a.
Penilaian aktiva
berdasarkan biaya historis.
b.
Aktiva tetap
didepresiasikan menurut provisi pajak dengan menggunakan dasar garis lurus atau
saldo berganda.
c.
Persediaan dinilai
sebesar nilai yang lebih rendah antara biaya atau nilai realisasi dengan
menggunakan metode FIFO atau metode rata – rata tertimbang.
d.
Biaya penelitian dan
pengembangan dibebankan pada saat terjadinya, namun dapat dikapitalisasikan
dalam keadaan tertentu.
Dengan beberapa
pengecualian, laporan keuangan konsolidasi Prancis mengikuti pendekatan
penyajian wajar berupa pelaporan substansi mengungguli bentuk.
2. Jerman
Di Jerman lingkungan
akuntansi mengalami perubahan terus – menerus. Dalam suatu peristiwa yang
besar, Hukum Perusahaan tahun 1965 mengubah sistem pelaporan keuangan Jerman
dengan mengarah pada ide – ide Inggris – Amerika.
Pada awal tahun 1970-an, Uni Eropa mulai mengeluarkan direktif
harmonisasi yang harus diadopsi oleh negara – negara anggotanya ke dalam hukum
nasional.
Regulasi dan Penegakan Aturan Akuntansi
Sebelum tahun 1998, Jerman
tidak memiliki fungsi penetapan standar akuntansi keuangan sebagimana yang
dipahami di negara – negara berbahasa inggris. Komite Standar Akuntansi Jerman
(GASC) atau dalam bahasa Jerman (Deutches Rechnungslegungs Standard Committee)
atau DRSC didirikan tidak lama sesudah itu dan langsung diakui oleh Kementerian
sebagai pihak berwenang dalam menetapkan standard di Jerman.
Secara garis besar
akuntansi di Jerman mirip dengan sistem yang ada di Inggris dan Amerika
Serikat. Namun demikian penting diperhatikan bahwa standar GASB adalah
rekomendasi wajjib yang hanya berlaku untuk laporan keuangan konsolidasi. GASB
dibentuk untuk mengembangkan suatu standar Jerman yang sesuai dengan standar
akuntansi internasional. Pada tahun 2003 GASB menerapkan strategi baru dan
menyelaraskan program kerjanya dengan usaha IASB untuk mencapai konvergensi
standar akuntansi secara global.
Pelaporan Keuangan
Dalam UU Akuntansi tahun
1985 menentukan ketentuan akuntansi, auditing dan pelaporan keuangan yang
berbeda – beda menurut ukuran perusahaan. Ada tiga kelompok ukuran keci,
menengah dan besar. UU akuntansi tahun 1985 menentukan isi dan bentuk laporan
keuangan yang meliputi:
a.
Neraca
b.
Laporan Laba Rugi
c.
Catatan atas Laporan
Keuangan
d.
Laporan Manajemen
e.
Laporan Auditor
Ciri utama sistem pelaporan
keuangan di Jerman adalah laporan secara pribadi oleh auditor kepada dewan
direktur pengelola perusahaan dan dewan pengawas perusahaan.
Pengukuran Akuntansi
a.
Metode pembelian
adalah metode konsolidasi yang utama
b.
Aktiva dan kewajiban
dari perusahaan yang diakuisisi dinilai sebesar nilai kini dan jumlah yang
tersisa merupakan goodwill.
c.
Goodwill dapat
disalinghapuskan terhadap cadangan dalam ekuitas atau diamortisasi secara
sistematis selama umur manfaat ekonominya.
d.
Usaha patungan dapat
dicatat dengan menggunakan metode konsolidasi proporsional atau metode ekuitas.
e.
Biaya historis
merupakan dasar untuk menilai aktiva berwujud.
f.
Persediaan dinilai
sebesar nilai yang lebih rendah antara biaya atau pasar, metode yang digunakan
untuk menghitung biaya adalah FIFO atau rata – rata tertimbang.
g.
Biaya penelitian dan
pengembangan dibebankan pada saat terjadinya.
3. Jepang
Di Jepang Akuntansi dan
Pelaporan Keuangan mencerminkan gabungan berbagai pengaruh domestik dan
internasional. Untuk memahami akuntansi di Jepang, seseorang harus memahami
budaya, praktik usaha dan sejarah Jepang.
Di Jepang perusahaan –
perusahaan saling memiliki ekuitas saham satu sama lain. Investasi yang saling
bertautan ini menghasilkan konglomerasi industry yang meraksasa yang disebut
sebagai keiretsu. Modal usaha keiretsu ini sedang dalam perubahan seiring
dengan reformasi structural yang dilakukan Jepang untuk mengatasi stagnasi
ekonomi. Pada akhir tahun 1990-an untuk membuat kesehatan ekonomi perusahaan –
perusahaan Jepang menjadi semakin transparan dan membawa Jepang lebih dekat
dengan standar internasional.
Regulasi dan Penegakan Aturan Akuntansi
Pemerintah nasional masih
memiliki pengaruh paling signifikan terhadap akuntansi di Jepang. Regulasi
akuntansi didasarkan pada tiga UU : Hukum Komersil, UU Pasar Modal dan UU Pajak
Penghasilan. Hukum ini disebut sebagai “ sistem hukum segitiga”.
Berdasarkan Hukum
Komersial, laporan keuangan dan skedul pendukung bagi perusahaan berukuran
kecil dan menengah harus diaudit hanya oleh auditor wajib. Auditor wajib tidak
perlu memiliki kualifikasi professional dan dipekerjakan oleh perusahaan secara
purna waktu.Audit wajib memiliki focus utama pada tindakan – tindakan manajemen
yang diambil oleh para direktur dan melakukan tugasnya sesuai dengan aturan
hukum.
Penetapan standar akuntansi
di Jepang terjadi pada tahun 2001 dengan pembentukan Badan Standar Akuntansi
Jepang dan lembaga pengawas yang terkait dengannya yang dikenal dengan Lembaga
Standar Akuntansi Keuangan.Sebagai organisasi sektor swasta yang independen
ASJB diharapkan agar menjadi lebih kut dan lebih transparan dan tidak
terpengaruh oleh tekanan politik dan bertujuan khusus. ASJB juga bekerja sama
dengan IASB dalam mengembangkan IFRS.
Pelaporan Keuangan
Perusahaan yang didirikan
menurut Hukum Komersial diwajibkan untuk menyusun laporan wajib yang harus
mendapat persetujuan dalam rapat tahunan pemegang saham, yang berisi hal – hal
berikut:
a.
Neraca
b.
Laporan Laba Rugi
c.
Laporan Usaha
d.
Proposal atas
Penentuan Penggunaan (apropriasi) Laba Ditahan
e.
Skedul Pendukung
Pengukuran Akuntansi
Hukum Komersial mewajibkan
perusahaan – perusahaan besar untuk menyusun laporan konsolidasi.
a.
Akun perusahaan
secara terpisah merupakan dasar bagi laporan konsolidasi dan umumnya prinsip
akuntansi yang sama digunakan untuk keduanya.
b.
Anak perusahaan
dikonsolidasikan jika induk perusahaan secara langsung dan tidak langsung
mengendalikan kebijakan keuangan dan operasionalnya.
c.
Goodwill diukur
menurut dasar nilai wajar aktiva bersih yang diakuisisi dan diamortisasi selama
maksimum 20 tahun.
d.
Metode ekuitas
digunakan untuk investasi pada perusahaan afiliasi ketika induk dan anak
perusahaan memiliki pengaruh signifikan terhadap kebijakan keuangan dan
operasionalnya.
e.
Persediaan dinilai
sebesar nilai yang lebih rendah antara biaya atau pasar, namun biaya yang
paling banyak digunakan.
f.
Biaya penelitian dan
pengembangan dibebankan pada saat terjadinya.
4.
Belanda
Belanda memiliki akuntansi dan
pelaporan keuangan yang relative permisif, tetapi standar praktik dan
professional yang sangat tinggi. Belanda merupakan negara hukum kode, namun
akuntansinya berorientasi pada penyajian wajar.
Di Belanda akuntansi dianggap
sebagai cabang dari ekonomi usaha, sehingga banyak pemikiran ekonomi yang
dicurahkan pada topik – topik akuntansi dan khususnya terhadap pengukuran
akuntansi. Belanda merupak salah satu pendukung pertama atas standar
internasional untuk akuntansi dan pelaporan keuangan, dan pernyataan IASB
menerima perhatian besar dalam menentukan praktik yang dapat diterima.
Regulasi dan Penegakan Aturan Akuntansi
Regulasi di Belanda tetap
liberal hingga tahun 1970. UU tersebut merupakan bagian dari program besar
perubahan dalam bidang hukum perusahaan dan diperkenalkan sebagian untuk
mencerminkan harmonisasi hukum perusahaan didalam UE yang terjadi. Di antara
provisi utama UU tahun 1970 tersebut adalah sebagai berikut :
a.
Laporan keuangan
tahunan harus menunjukkan gambaran yang wajar mengenai posisi dan hasil
keuangan selama satu tahun, dan seluruh pos didalamnya harus dikelompokkan dan
dijelaskan secara memadai.
b.
Laporan keuangan
harus disusun sesuai dengan praktik usaha yang baik (yaitu prinsip akuntansi
yang dapat diterima oleh kalangan usaha).
c.
Dasar penyajian
aktiva dan kewajiban dan penentuan hasil operasi harus diungkapkan.
d.
Laporan keuangan
harus disusun sesuai dengan dasar yang konsisten dan pengaruh material dari
perubahan dalam prinsip akuntansi harus diungkapkan secukupnya.
e.
Informasi keuangan
komparatif untuk periode sebelumnya harus diungkapkan dalam laporan keuangan
dan catatan kaki yang menyertainya.
Dewan Pelaporan tahunan
mengeluarkan tuntunan terhadap prinsip akuntansi yang dapat/tidak dapat
diterima secara umum. Dewan tersebut memiliki anggota yang berasal dari 3
kelompok yang berbeda. Dewan tersebut merupakan organisasi swasta dan didanai
melalui hibah dari kalangan usaha dan NivRA. NivRA juga terlibat dalam segala
hal yang terkait dengan akuntansi di Belanda.
Pelaporan Keuangan
Laporan keuangan wajib harus
disusun dalam bahasa Belanda, namun dalam bahasa Inggris, Prancis, dan Jerman
dapat diterima. Laporan keuangan harus memuat hal – hal berikut:
a.
Neraca
b.
Laporan Laba rugi
c.
Catatan – catatan
d.
Laporan Direksi
e.
Informasi lain yang
direkomendasikan
Pengukuran Akuntansi
Pengukuran akuntansi Belanda
memiliki fleksibilitas, hal ini terlihat dengan diperbolehkannya penggunaan
nilai kin untuk aktiva berwujud seperti persediaan dan aktiva yang disusutkan.
Karena perusahaan – perusahaan Belanda memiliki fleksibilitas dalam menerapkan
aturan pengukuran , dapat diduga bahwa terdapat kesempatan untuk melakukan
perataan laba.
5. Inggris
Inggris merupakan negara
pertama di dunia yang mengembangkan profesi akuntansi. Konsep penyajian hasil dan
posisi keuangan yang wajar juga berasal dari Inggris.
Regulasi dan Penegakan Aturan Akuntansi
Standar akuntansi keuangan
di Inggris adalah hukum perusahaan dan profesi akuntansi. Kegiatan perusahaan
yang didirikan di Inggris secara luas diatur oleh aktva yang disebut sebagai UU
perusahaan. UU tahun 1981 menetapkan lima prinsip dasar akuntansi:
a.
Pendapatan dan beban
harus ditandingkan menurut dasar akrual.
b.
Pos aktiva dan
kewajiban secara terpisah dalam setiap ketegori aktiva dan kewajiban dinilai
secara terpisah.
c.
Prinsip
konservatisama diterapkan, khususnya dalam pengakuan realisasi laba dan seluruh
kewajiban dan kerugian yang diketahui.
d.
Penerapan kebijakan
akuntansi yang konsisiten dari tahun ke tahun diwajibkan.
e.
Prinsip kelangsungan
usaha diterapkan untuk perusahaan yang menggunakan akuntansi.
Enam badan akuntansi di
Inggris yang berhubungan dengan Komite Konsultatif Badan Akuntansi yang berdiri
pada tahun 1970:
a.
Institut Akuntan
Berizin Resmi di Inggris dan Wales / ICAEW
b.
Institut Akuntan
Berizin Resmi di Irlandia / ICAI
c.
Institut Akuntan
berizin resmi di Skotlandia / ICAS
d.
Asosiasi Akuntan
Berizin Resmi dan Bersertifikat / ACCA
e.
Institut Akuntan
Manajemen Berizin Resmi / CIMA
f.
Institut Keuangan
dan Akuntansi Publik Berizin Resmi / CIPFA
Penetapan standar
akuntansi di Inggris dikeluarkan dan dikukuhkan oleh enam badan akuntansi di
atas.
Pelaporan Keuangan
Pelaporan keuangan Inggris
termasuk yang paling komprehensif di dunia. Laporan keuangan umumnya mencakup
Laporan Direksi, Laporan Laba dan Rugi dan Neraca, Laporan Arus Kas, Laporan
Total keuntungan dan Kerugian yang Diakui, Laporan Kebijakan Akuntansi, Catatan
atas Referensi dalam Laporan Keuangan, dan Laporan Auditor.
6. Amerika Serikat
Akuntansi di Amerika
Serikat diatur oleh badan sektor swasta (Badan Standar Akuntansi Keuangan) atau
FASB, tetapi sebuah lembaga pemerintah juga memiliki kekuasaan untuk menetapkan
standarnya sendiri. Pada tahun 2000 AICPA, badan sektor swasta lainnya
menetapkan standar auditing.
Regulasi dan Penegakan Aturan Akuntansi
Sistem AS tidak memiliki
ketentuan hukum mengenai penerbitan laporan keuangan. Perusahaan di AS dibentuk
berdasarkan hukum negara bagian dimana setiap negara bagian memiliki hukum
perusahaannya sendiri.
Secara umum hukum ini
berisi ketentuan atas pencatatan akuntansi dan penerbitan laporan keuangan
secara periodic. Terdapat pula prinsip – prinsip yang diterima secara umum /
GAAP yang terdiri dari seluruh standar, aturan dan regulasi akuntansi keuangan.
SAFS merupakan komponen utama dalam GAAP. Regulasi akuntansi dan auditing di AS
merupakan yang paling padat dibandingkan dengan gabungan regulasi negara lain
di dunia. Karenanya FASB dan SEC mempertimbangkan untuk mengubah GAAP AS dari
standar berdasarkan aturan menuju standar berdasarkan prinsip.
Pelaporan Keuangan
Laporan keuangan perusahaan
di Amerika Serikat meliputi Laporan Manajemen, Laporan Auditor Independen,
Laporan Keuangan Utama, Diskusi Manajemen dan Analisis atas Hasil Operasi dan
Kondisi Keuangan, dan Pengungkapan atas kebijakan akuntansi dengan pengaruh
paling penting terhadap laporan keuangan, Catatan atas Laporan Keuangan,
Perbandingan data Keuangan tertentu selama lima atau sepuluh tahun dan Data
kuartal terpilih.
Pengukuran Akuntansi
Aturan pengukuran akuntansi
di AS mengasumsikan bahwa suatu entitas usaha akan terus melangsungkan
usahanya. Pengukuran dengan dasar akrual sangat luas dan pengakuan transaksi
dan peristiwa sangat bergantung pada konsep penandingan. Jika terjadi
perubahan, maka perubahan dan pengaruhnya harus diungkapkan.
D.
Translasi Mata Uang Asing
1.
Alasan-Alasan Untuk Melakukan Translasi
Perusahaan dengan operasi luar negeri yang signifikan menyusun
laporan keuangan konsolidasi yang memeungkinkan para pembaca laporan untuk
mendapatkan pemahaman yang holistik atas operasi perusahaan, baik domestik dan
luar negeri. Untuk mencapai hal ini, laporan keuangan perusahaan luar negeri
yang berdenominasi dalam mata uang asing disajikan ulang dengan mata uang
pelaporan induk perusahaan. Proses penyajian ulang informasi keuangan dari satu
mata uang ke mata uang lainnya disebut translasi.
Masalah yang berkaitan dengan translasi mata uang,yaitu:
a. Fakta bahwa nilai relative mata uang asing jarang sekali
ditetapkan.
b. Kurs nilai tukar variable, yang digabungkan dengan berbagai macam
metode translasi yang dapat digunakan dan perbedaan perlakuan atas keuntungan
dan kerugian transalasi, membuat perbandingan hasil keuangan satu perusahaan
dengan perusahaan lain, atau perbandingan hasil suatu perusahaan yang sama dari
satu periode lain sulit dilakukan. Keadaan ini merupakan tantangan tersendiri
bagi perusahaan multinasional untuk menyediakan pengungkapan informasi hasil
operasi dan posisi keuangan.
c. Untuk mencatat transaksi mata uang asing, mengukur resiko suatu
perusahaan terhadap pengaruh mata uang dan berkomunikasi dengan para pihak
berkepentingan dari luar negeri.
d. Untuk keperluan akuntansi, suatu aktiva dan kewajiban mata uang
asing dikatakan menghadapi resiko mata uang jika suatu perubahan kurs nilai
tukar mata uang menyebabkan mata uang induk perusahaan (pelaporan) juga
berubah.
Akhirnya, skala investasi internasional yang meluas meningkatkan
kebutuhan untuk menyampaikan informasi akuntansi mengenai suatu perusahaan yang
berdomisili di suatu negara kepada pengguna di negara yang lain. Kebutuhan ini
timbul pada saat suatu perusahaan bermaksud untuk mencatatkan sahamnya di suatu
bursa efek luar negeri bermaksud untuk melakukan akuisisi atau usaha patungan
dengan pihak asing, atau ingin mengkomunikasikan hasil operasi dan posisi
keuangan kepada para pemegang saham asingnya.
Latar Belakang dan Terminologi
Translasi tidak sama dengan konversi, yang adalah pertukaran dari
satu mata uang ke mata uang lain secara fisik. Translasi hanyalah perubahan
satuan unit moneterr, seperti halnya sebuah neraca yang dinyatakan dalam pound
Inggris disajikan ulang ke dalam nilai ekuivalen dolar AS. Tidak ada pertukaran
fisik yang terjadi, dan tidak ada transaksi terkait yang terjadi seperti bila
dilakukan konversi. Saldo-saldo dalam mata uang asing ditranslasikan menjadi
nilai ekuivalen mata uang domestik berdasarkan kurs nilai tukar valuta asing
yaitu harga satu unit suatu mata uang yang dinyatakan dalam mata uang lainnya.
Transaksi mata uang asing terjadi pada pasar spot, forward atau swap.
Mata uang yang dibeli atau dijual pada spot umumnya harus dikirimkan secepatnya
yaitu dalam waktu 2 hari kerja. Translasi saldo-saldo dalam mata uang asing
dilakukan sederhana saja, baik secara langsung maupun tidak langsung. Nilai
ekuivalen mata uang domestik diperoleh dengan mengalikan saldo dalam mata uang
asing dengan kuotasi kurs langsung dengan membagi saldo mata uang asing dengan
kuotasi tidak langsung. Transaksi pada pasar forward adalah perjanjian untuk
melakukan pertukaran suatu mata uang dengan jumlah tertentu ke dalam mata uang
lain pada suatu tanggal di masa depan. Kuotasi pada pasar forward dinyatakan
dengan diskonto atau premium dari kurs spot. Transaksi swap melibatkan
pembelian spot dan penjualan forward atau penjualan spot dan pembelian forward
atas suatu mata uang secara bersamaan. Investor sering memanfaatkan transaksi
swap untuk mengambil keuntungan dari tingkat suku bunga yang lebih tinggi di
suatu Negara asing sembari dalam kesempatan yang sama melindungi diri dari
pergerakan yang tidak menguntungkan dari kurs nilai tukar valuta asing.
Permasalahan
Jika kurs nilai tukar relatif stabil, translasi mata uang tidak
akan lebih sukar dari proses translasi satuan inci atau kaki menjadi nilai
ekuivalennya dalam unit metrik. Namun demikian, kurs nilai tukar jarang sekali
stabil. Mata uang Negara-negara industry maju menemukan nilainya secara bebas
dalam pasar mata uang. Nilai tukar yang berfluktuasi secara khusus terjadi di
Eropa Timur, Amerika Latin, dan beberapa bagian Asia. Fluktuasi mata uang
meningkatkan jumlah nilai tukar translasi yang dapat digunakan dalam proses
translasi dan menimbulkan keuntungan dan kerugian mata uang asing. Pergerakan
mata uang juga sangat berhubungan erat dengan tingkat inflasi lokal.
Pengaruh Alternatif Kurs Translasi Terhadap Laporan Keuangan
Ketiga nilai tukar berikut dapat digunakan ketika melakukan
translasi saldo dalam mata uang asing menjadi mata uang domestik, yaitu :
a. Kurs kini (current), adalah kurs nilai tukar pada saat tanggal
laporan keuangan.
b. Kurs historis (historical), adalah kurs nilai tukar pada saat suatu
aktiva dalam mata uang asing pertama kali diperoleh atau ketika suatu kewajiban
dalam mata uang asing pertama kali terjadi. Umumnya mempertahankan biaya awal
ekuivalen dengan suatu pos dalam mata uang asing dalam laporan berdenominasi
mata uang domestik. Penggunaan kurs nilai tukar historis melindungi laporan
keuangan dari keuntungan dan kerugian translasi mata uang asing, yaitu dari
kenaikan atau penurunan dalam ekuivalen dolar saldo mata uang asing yang timbul
dari fluktuasi kurs translasiantar periode pelaporan. Penggunaan kurs kini
menimbulkan terjadinya keuntungan atau kerugian translasi.
c. Kurs rata-rata (avarage), adalah rata-rata sederhana atau
tertimbang dari kurs nilai tukar kini atau kurs nilai tukar historis.
Transaksi mata uang asing terjadi pada saat suatu perusahaan
membeli atau menjual barang, dengan pembayaran yang dibuat dalam mata uang
asing atau ketika perusahaan meminjam atau meminjamkan mata uang asing. Translasi
diperlukan untuk mempertahankan catatan akuntansi dalam mata uang perusahaan
pelapor. Dari dua jenis penyesuaian transaksi, yang pertama keuntungan dan
kerugian atas transaksi yang terselesaikan, timbul ketika nilai tukar yang
digunakan untuk mencatat transaksi pada awalnya berbeda dengan nilai tukar yang
digunakan pada saat penyelasian. Jenis kedua penyesuaian transaksi adalah
keuntungan dan kerugian dari transaksi yang belum terselesaikan timbul ketika
laporan keuangan disusun sebelum suatu transaksi diselesaikan.
Kurs nilai tukar yang berfluktuasi menyebabkan timbulnya beberapa
isu utama dalam akuntansi untuk translasi mata uang asing:
1) Kurs nilai tukar manakah yang harusnya digunakan untuk
mentranslasikan saldo dalam mata uang asing ke dalam mata uang domestik?
2) Aktiva dan kewajiban dalam mata uang asing yang manakah yang
beresiko terhadap perubahan nilai tukar?
3) Bagaimana sebaiknya keuntungan dan kerugian translasi harus
dicatat?
Transaksi Mata Uang Asing
Ciri utama yang istimewa dari sebuah transaksi mata uang asing
adalah penyelesaiannya dipengaruhi dalam suatu mata uang asing. Transaksi mata
uang asing terjadi pada saat suatu perusahaan membeli atau menjual barang
dengan pembayaran yang dilakukan dalam suatu mata uang asing.
FAS No. 25 merupakan pernyataan standar akuntansi untuk mata uang
asing yang berisi :
a. Pada tanggal suatu transaksi diakui, setiap aktiva, kewajiban,
pendapatan, beban, keuntungan atau kerugian yang terjadi dari suatu transaksi
harus diukur dan dicatat dalam mata uang fungsional perusahaan yang melakukan
pencatatan dengan menggunakan kurs nilai tukar yang berlaku pada tanggal
tersebut.
b. Pada setiap tanggal neraca, saldo-saldo tercatat yang berdenominasi
dalam suatu mata uang selain mata uang fungsional perusahaan yang melakukan
pencatatan harus disesuaikan untuk mencerminkan kurs nilai tukar terkini.
Berdasarkan hal ini, penyesuaian kurs nilai tukar valuta asing
(yaitu keuntungan atau kerugian atas transaksi yang telah terjadi) perlu dibuat
pada saat terjadi perubahan kurs nilai tukar di antara tanggal transaksi dan
tanggal penyelesaian. Apabila laporan keuangan disusun sebelum penyelesaian
transaksi, penyesuaian akuntansi (yaitu keuntungan atau kerugian dari transaksi
yang belum diselesaikan) akan sama dengan perbedaan antara jumlah yang awalnya
dicatat dan jumlah yang disajikan dalam laporan keuangan.
FASB menolak pandangan yang menyatakan bahwa pembedaan perlu dibuat
antara keuntungan dan kerugian dari transaksi yang sudah diselesaikan dan yang
belum diselesaikan, karena pembedaan seperti itu tidak dapat diterapkan dalam
praktik. Terdapat dua perlakuan akuntansi atas keuntungan dan kerugian
transaksi yang dapat diterapkan.
Perspektif Transaksi Tunggal
Berdasarkan perspektif tramnsaksi tunggal, penyesuaian niali tukar
(baik yang sudah diselesaikan atau belum) diperlakukan sebagai penyesuaian
terhadap akun-akun transaksi yang awal berdasarkan premis bahwa suatu transaksi
dan penyelesaiannya merupakan suatu peristiwa tunggal.
Perspektif Dua Transaksi
Berdasarkan perspektif dua transaksi, penagihan piutang dalam krona
dianggap sebagai peristiwa terpisah dari penjualan yang menyebabkan timbulnya
piutang tersebut.
Translasi Mata Uang Asing
Perusahaan yang beroperasi secara internasional menggunkan berbagai
metode untuk menyatakan aktiva, kewajiban, pendapatan dan beban yang dinyatakan
dalam mata uang asing menjadi dalam mata uang domestik. Metode translasi ini
dapat diklasifikasikan, yaitu:
a. Metode Kurs Tunggal
Metode kurs tunggal,
yang sudah lama popular di Eropa, menerapkan satu kurs nilai tukar yaitu kurs
terkini atau kurs penutupan, untuk seluruh aktiva dan kewajiban lancar.
Pendapatan dan beban dalam mata uang sing umumnya ditranslasikan dengan
menggunakan kurs nilai tukar yang berlaku pada saat pos-pos tersebut diakui.
Namun demikian, untuk memudahkan pos-pos ini umumnya ditranslasikan dengan
menggunakan rata-rata tertimbang kurs nilai tukar yang tepat untuk periode
tersebut. Berdasarkan metode ini, laporan keuangan sebuah operasi asing (yang
dipandang oleh induk perusahaan sebagai perusahaan otonomi) memiliki domisili
pelaporannya sendiri, lingkungan mata uang local di mana perusahaan afiliasi
asing melakukan usahanya.
b. Metode Moneter – Nonmoneter
Menggunakan skema
klasifikasi neraca untuk menentukan kurs translasi yang tepat. Aktiva dan
kewajiban moneter ditranslasikan berdasarkan kurs kini. Pos-pos nonmoneter
(aktiva tetap, investasi jangka panjang dan persediaan) ditranslasikan dengan
menggunakan kurs historis. Pos-pos laporan laba rugi ditranslasikan dengan
menggunakan prosedur yang sama dengan yang dijelaskan untuk konsep
kini-nonkini. Namun demikian, perlu diperhatikan bahwa, metode
moneter-nonmoneter bergantung pada klasifikasi skema neraca untuk menentukan
kurs translasi yang tepat. Hal ini dapat menghasilkan hasil yang kurang tepat.
c. Metode temporal
Dengan menggunakan
metode temporal translasi mata uang merupakan proses konversi pengukuran atau
penyajian uang nilai tertentu. Metode ini tidak mengubah atribut suatu pos yang
diukur, melainkan hanya mengubah unit pengukuran.
Kurs Kini yang Tepat
Kurs nilai tukar yang digunakan dalam metode translasi mengacu pada
historis dan kurs kini. Kurs rata-rata sering digunakan dalam laporan laba rugi
untuk pos-pos beban. Beberapa Negara menggunakan kurs nilai tukar yang berbeda
untuk transaksi yang berbeda. Dalam situasi ini, harus dipilih beberapa kurs
nilai tukar yang ada. Beberapa
alternative yang disarankan adalah: (1) kurs pembayaran deviden, (2)
kurs pasar bebas, dan (3) kurs penalti atau preferensi yang dapat digunakan,
seperti yang terkait dengan kegiatan impor atau ekspor.
Keuntungan dan Kerugian Translasi
a. Penangguhan
Dikeluarkannya
penyesuaian translasi dari laba periode sekarang umumnya dianjurkan karena
penyesuaian ini hanyalah hasil dari proses penyajian ulang. Perubahan nilai
ekuivalen mata uang domestik dari aktiva bersih anak perusahaan luar negeri
tidak direalisasikan dan tidak berpengaruh terhadap arus kas mata uang local
yang dihasilkan dari entitas asing. Oleh karena itu, akan cenderung menyesatkan
jika memasukan penyesuaian seperti itu ke dalam laba sekarang. Berdasarkan
keadaan ini, penyesuaian translasi harus diakumulasi secara terpisah sebagai
bagian ekuitas konsolidasi.
b. Penangguhan dan Amortisasi
Beberapa pihak
mendukung penangguhan keuntungan atau kerugian translasi dan melakukan
amortisasi penyesuaian ini selama masa manfaat pos-pos neraca terkait.
c. Penangguhan Parsial
Pilihan ketiga dalam
akuntansi ntuk keuntungan atau kerugian translasi adalah dengan mengakui
kerugian sesegera mungkin setelah terjadi, tetapi mengakui keuntungan hanya
setelah direalisasikan. Meskipun terdengar konservatif, penangguhan keuntungan
translasi semata-mata hanya karena merupakan keuntungan, tetap mengabaikan
terjadinya perubahan kurs.
d. Tidak Ditangguhkan
Pilihan terakhir
adalah untuk mengakui keuntungan atau kerugian translasi dalam laporan laba
rugi sesegera mungkin, pilihan ini memandang penangguhan dalam bentuk apa pun
bersifat palsu dan cenderung menyesatkan.
Perkembangan Akuntansi Translasi
· Sebelum 1965
Praktik translasi
kebanyakan perusahaan AS dipandu oleh Accounting Research Bulletin (ARB No. 4)
yang kemudian diterbitkan kembali sebagai Bab 12 dalam ARB No. 43. Pernyataan
ini mendorong penggunaan metode kini-nonkini. Keuntungan atau kerugian
transaksi langsung dimasukan ke dalam laba. Keuntungan atau kerugian bersih
saling dihapuskan selama periode berjalan. Kerugian translasi bersih diakui
dalam laba tahun berjalan, sedangkan keuntungan translasi bersih ditangguhkan
dalam akun penundaan neraca dan digunakan untuk menghapuskan kerugian translasi
pada masa mendatang.
· 1965-1975
Bab 12 ARB No. 43
memperbolehkan pengecualian tertentu atas metode kini-nonkini. Dalam keadaan
tertentu, persediaan dapat ditranslasikan berdasarkan kurs historis. Utang
jangka panjang yang timbul Karena pembelian aktiva jangka panjang dapat
ditranslasikan berdsarkan kurs kini apabila terjadi perubahan kurs nilai tukar
besar (dan dianggap tetap). Setiap berbedaan akuntansi disebabkan oleh
penyajian ulang utng diperlakukan sebagai bagian dari biaya perolehan aktiva.
Menstralasikan seluruh utang dan piutang dalam mata uang asing berdasarkan kurs
kini diperbolehkan setelah Accounting Principle Board Opinion No. 6 dikeluarkan
pada tahun 1965. Perubahan terhadap ARB No. 43 kini memberikan pilihan
translasi yang lain bagi perusahaan.
· 1975-1981
Untuk mengakhiri
keaneragaman perlakuan yang diperbolehkan menurut standar translasi sebelumnya,
FASB mengeluarkan FAS No.8 yang kontroversial pada tahun 1975. Penangguhan
keuntungan dan kerugian translasi tidak diperbolehkan lagi. Keuntungan dan
kerugian translasi dan transaksi mata uang asing harus diakui dalam laba selama
periode perubahan kurs nilai tukar.
Reaksi perusahaan terhadap
FAS 8 beraneka ragam. Beberapa pihak mendukung dasar teori yang digunakan,
sedangkan banyak yang lain mengecam karena distorsi yang dapat ditimbulkan
dalam laba perusahaan yang dilaporkan. FAS No.8 dikritik karena menyebabkan
hasil akuntansi yang tidak sesuai dengan kenyataan ekonomi. Pengaruh yo-yo FAS
No.8 terhadap laba perusahaan juga menimbulkan perhatian di kalangan eksekutif
sejumlah perusahaan multinasional. Mereka mengkhawatirkan laba perusahaan yang
dilaporkan akan terlihat lebih fluktuatif bila dibandingkan dengan laba
perusahaan domestic dan dengan demikian akan menekan harga saham perusahaan.
· 1981-hingga kini
Pada bulan Mei 1978, FASB
mengundang komentar publik terhadap 12 pernyataan pertama yang dikeluarkannya,
dimana banyak yang menanggapi ketidakpuasan publik tentang FAS No. 8 sehingga
FASB mempertimbangkan kembali FAS No. 8 dan setelah melalui banyak ertemuan dan
dua draft sementara, menerbitkan Statement Of Financial Accounting Standards
No. 52 pada tahun 1981.
Isi Standar No.52
Tujuan translasi menurut FAS No.52 berbeda secara substansial dari
tujuan menurut FAS No.8. FAS No.8 menggunakan sudut pandang induk perusahaan
dengan mengharuskan laporan keuangan dalam mata uang asing disajikan
seakan-akan seluruh transaksinya terjadi dalam mata uang dola AS. Standar No.
52 mengakui bahwa baik sudut pandang induk perusahaan dan anak perusahaan
merupakan kerangka dasar pelaporan yang sah, oleh kerana itu aturan
translasinya dirancang untuk :
a. Mencerminkan, didalam laporan keuangan
konsolidasi, hasil dan hubungan keuangan yang diukur dalam mata uang primer
(utama) yang digunakan oleh setiap entitas konsolidasi melakukan kegiatan
usahanya (mata uang fungsionalnya-functional currency)
b. Memberikan informasi yang secara umum sesuai dengan ekspektasi
pengaruh ekonomi dari perubahan kurs nilai tukar terhadap arus kas dan ekuitas
suatu perusahaan.
Translasi Apablia Mata Uang Lokal Merupakan Mata Uang Fungsional
Jika mata uang fungsional merupakan mata uang asing yang digunakan
dalam catatan entitas, laporan keuangannya ditranslasikan ke dalam dolar dengan
menggunakan metode kurs kini.keuntungan atau kerugian translasi yang timbul
diungkapkan sebagai komponen terpisah dalam ekuitas konsolidasi. Hal ini
mempertahankan rasio laporan keuangan jika dihitung dari laporan keuangan dalam
mata uang lokal. Prosedur kurs kini yang digunakan yaitu :
a. Seluruh aktiva dan
kewajiban dalam mata uang asing ditranslasikan ke dalam dolar dengan menggunakan
kurs nilai tukar per tanggal neraca, akun modal ditranslasikan berdasarkan kurs
historis.
b. Pendapatan dan beban ditranslasikan dengan menggunakan kurs nilai
tukar pada tanggal transaksi, meskiun kurs rata-rata tertimbang dapat digunakan
untuk kepraktisan.
c. Keuntungan dan kerugian translasi tersebut dilaporkan sebgai
komponen terpisah dalam ekuitas pemegang saham konsolidasi. Penyesuaian nilai
tukar ini tidak akan masuk ke dalam laporan laba rugi hingga operasi luar
negeri tersebut dijual atau nilai investasinya dianggap telah hilang secara
permanen.
Translasi Apabila Dolar AS Merupakan Mata Uang Fungsional
Apabila dolar AS merupakan mata uang fungsional suatu entitas
asing, maka laporan keuangan dalam mata uang sing diukur ulang ke dalam dolar
dengan menggunakan metode temporal. Seluruh keuntungan dan kerugian transaksi
yang berasal dari proses translasi dimasukan ke dalam penentuan laba berjalan.
Secara khusus :
a. Aktiva dan kewajiban moneter dan aktiva nonmoneter yang dinilai
berdasarkan harga pasar terkini ditranslasikan dengan menggunakan kurs nilai
tukar per tanggal laporan keuangan, pos nonmoneter lainnya dan akun modal
ditranslasikan berdasarkan kurs historis.
b. Pendapatan dan beban ditranslasikan dengan menggunakan rata-rata
kurs niali tukar selama periode berjalan, kecuali untuk pos-pos nonmoneter yang
ditranslasikan dengan menggunakan kurs historis.
c. Keuntungan dan kerugian translasi tercermin dalam laba periode
berjalan.
Translasi Apabila Mata Uang Asing Merupakan Mata Uang Fungsional
Suatu entitas asing dapat menggunakan sebuah mata uang asing dalam
catatan akuntansinya apabila mata uang fungsionalnya adalah mata uang asing
lainnya. Dalam situasi ini, laporan keuangan pertama-tama disajikan ulang dari
mata uang lokal ke dalam mata uang fungsionalnya (metode temporal) dan kemudian
ditranslasikan ke dalam dolar AS dengan menggunakan metode kurs kini.
Translasi Mata Uang Asing dan Inflasi
Suatu hubungan terbalik antara tingkat inflasi suatu Negara dan
nilai eksternal mata uangnya telah ditunjukan secara empiris. Alhasil,
penggunaan kurs kini untuk mentranslasikan biaya perolehan aktiva nonmoneter
yang berlokasi di lingkungan berinflasi pada akhirnya akan menimbulkan nilai
ekuivalen dalam mata uang domestik yang jauh lebih rendah dari pad dasar
pengukuran awalnya. Pada saat yang bersamaan, laba yang ditranslasikan akan
jauh lebih besar sehubungan dengan beban depresiasi yang juga lebih rendah.
FASB menolak penyesuaian inflasi sebelum proses translasi, karena
yakin bahwa penyesuaian tersebut tidak konsisten dengan kerangka dasar
penialian biaya historis yang digunakan dalam lporan keungan di AS. Solusinya,
FAS No. 52 mewajibkan penggunaan dolar AS sebagai mata uang fungsional untuk
operasi luar negeri yang berdomisili di lingkungan dengan hiperinflasi (yaitu
negara-negara dengan tingkat inflasi
kumulatif melebihi 100 persen selama periode tiga tahun).
Translasi Mata Uang Asing di Negara Lain
Kanada (CICA 1650), perbedaan untama antara standar di Kanada (CICA
1650) dan FAS No.52 menyangkut utang jangka panjang dalam mata uang asing. Di
Kanada, keuntungan dan kerugian dari translasi ditangguhkan dan diamortisasi.
Inggris (IAS 21), perbedaan utama antara standar di Inggris dan di
AS berkaitan dengan anak perusahaan yang berdiri sendiri di negara-negara yang
mengalami hiperinflasi. Di Inggris, laporan keuangan pertama-tama harus
disesuaikan terhadap tingkat harga kini dan kemudian ditranslasikan dengan
menggunakan kurs kini.
Australia dan Selandia Baru menerbitkan standar pada tahun 1988.
Bila dibandingkan dengan FAS No.52, standar Australia mengharuskan penilaian
kembali aktiva tidak lancar nonomoneter untuk anak perusahaan di Negara-negara
berinflasi tinggi sebelum dilakukan translasi.
Jepang, akhir-akhir ini telah mengubah standarnya dengan
mengharuskan metode kurs kini di segala keadaan, dengan penyesuaian translasi
yang disajikan pada neraca dalam ekuitas pemegang saham.
Tren Kini
Translasi mata uang asing masih tetap merupakan isu teknis yang
menyulitkan dan kontroversial. Jumlah perusahaan melakukan pencatatan saham
secara internasional dan mengikuti IAS, atau sekarang IFRS (International
Financial Reporting Standards-Standar Pelaporan Keuangan Internasional),
semakin meningkat dan bursa efek di seluruh dunia berada di bawah tekanan yang
semakin meningkat utnuk menggunakan IFRS sebagai pengganti standar domestic
untuk pencatatan saham perusahaan-perusahaan asing. (Banyak bursa efek telah
melakukan hal ini). Di Amerika Serikat, perusahaan-perusahaan asing
diperbolehkan untuk menggunakan standar internsional (IAS 21) dab bukan standar
AS (FAS No.52) dalam masalah translasi mata uang asing. Pada saatnya nanti,
FASB mungkin akan meyelesaikan perbedaan-perbedaan antara FAS No.52 dengan IAS
21, dengan condong kepada standar internasional.
Daftar Pustaka :
- Anonym, http://tiyaimoet.blog.friendster.com/2010/03/perspektif-global/. Diakses pada tanggal 12 Oktober 2010.
- Anonym. 2012. Akuntansi Komparatif 1. Dalam http://lhiyagemini.blogspot.com/2012/03/akuntansi-komparatif-1.html, diunduh pada Jum’at, 15 Maret 2013 pukul 15.48 WIB. Anonym. 2013. Akuntansi Komparatif. Dalam http://christianachen1402.wordpress.com/2013/03/23/tugas-iii-akuntansi-komparatif/, diunduh pada Jum’at, 15 Maret 2013 pukul 15.40 WIB.
- Choi, Frederick D.S and Gary K. Meek. 2010. International Accounting. Buku 1. Salemba Empat. Jakarta.
- Sriartha, dkk. 2004. Perspektif Global. Tidak diterbitkan: Singaraja
NPM : 29210487
Kelas : 4EB22
Tidak ada komentar:
Posting Komentar