Nama : Erma Ainun Najah
NPM : 29210487
Kelas : 3EB22
Mata Kuliah :
Bahasa Indonesia 2
Analisa Penalaran Deduktif
Penalaran adalah
suatu proses berpikir manusia untuk menghubung-hubungkan data / fakta yang ada
sehingga sampai pada suatu simpulan. Fakta / data yang akan dinalar itu boleh
benar dan juga tidak. Kalimat pernyataan yang dapat dipergunakan sebagai data
itu disebut proposisi.
Macam-macam penalaran, yaitu :
Penalaran induktif adalah proses penalaran untuk manari
kesimpulan berupa prinsip atau sikap yang berlaku umum berdasarkan fakta –
fakta yang bersifat khusus, prosesnya disebut Induksi. Penalaran induktif
tekait dengan empirisme. Secara impirisme, ilmu memisahkan antara semua
pengetahuan yang sesuai fakta dan yang tidak. Sebelum teruji secara empiris,
semua penjelasan yang diajukan hanyalah bersifat sentara. Penalaran induktif
ini berpangkal pada empiris untuk menyusun suatu penjelasan umum, teori atau
kaedah yang berlaku umum.
Contoh penalaran induktif :
Harimau
berdaun telinga berkembang biak dengan melahirkan. Babi berdaun telinga
berkembang biak dengan melahirkan. Ikan paus berdaun telinga berkembang biak
dengan melahirkan.
Kesimpulan
: semua hewan yang berdaun telinga berkembang biak dengan melahirkan.
Penalaran
deduktif merupakan prosedur yang berpangkal dari peristiwa umum yang
kebenarannya telah diketahui, dan berakhir pada suatu kesimpulan baru yang
bersifat lebih khusus. Metode ini diawali dari pebentukan teori hipotesis,
definisi operasional, instrumen dan operasionalisasi. Dengan kata lain, untuk
memahami suatu gejala terlebih dahulu harus memiliki konsep dan teori tentang
gejala tersebut dan selanjutnya dilakukan penelitian di lapangan. Dengan
demikian, konteks penalaran deduksi tersebut konsep dan teori merupakan kata
kunci untuk memahami suatu gejala. Penalaran deduksi tergantung pada premisnya
( proposisi tempat menarik kesimpulan ). Artinya, jika premisnya salah, mungkin
akan membawa kita pada hasil yang salah. Begitu juga sebaliknya.
Faktor – faktor penalaran deduktif :
1. Pembentukan Teori
2. Hipotesis
3. Definisi Operasional
4. Instrumen
5. Operasionalisasi
Penarikan
kesimpulan secara deduktif, dapat dilakukan dengan dua cara :
• MENARIK SIMPULAN SECARA LANGSUNG
Penarikan
secara langsung ditarik dari satu premis.
Contoh
kalimat :
-
Semua ikan bernafas melalui insang. ( premis )
-
Semua yang bernafas melalui insang adalah ikan. ( simpulan )
• MENARIK SIMPULAN SECARA TIDAK LANGSUNG
Penarikan
ini ditarik dari dua premis. Premis pertama adalah premis yang bersifat umum,
sedangkan yang kedua adalah yang bersifat khusus.
•.
Bentuk Gagasan / Penalaran Induktif
•
Generalisasi ialah perihal bentuk gagasan atau simpulan umum dari suatu
kejadian hal, atau sebagainya.
Contoh
dalam paragaraf.
1. Setelah
tugas menggambar kelas I B dikumpulkan, ternyata duapuluh anak perempuan
menggambar bunga, dua orang anak perempuan menggambar pemandangan, dan satu
orang saja menggambar binatang, sedangkan anak laki-laki bermacam-macam. Boleh
dikatakan anak perempuan kelas I B cenderung membuat gambar bunga.
•
Analogi ialah suatu penalaran yang bertolak dari peristiwa khusus mirip satu
sama lain, kemudian menyimpulkan apa yang berlaku untuk suatu hal akan bertolak
pula untuk hal lain.
•
Kausalitas (sebab-akibat) ialah memulai suatu penjelasan dari peristiwa atau
hal yang merupakan sebab, kemudian bergerak menuju ke suatu kesimpulan sebagai
aspek (akibat) terdekat.
1. Silogisme ialah
menarik kesimpilan dari dua pernyataan (premis)
yaitu premis umum/ mayor (PU) dan premis khusus/ minor (PK).
PK
: Semua C=A
S
: Semua C=B
Contoh
PU : Semua makhluk hidup memiliki mata
PK
: si Polan adalah makhluk hidup
S
: maka si Polan mempunyai mata
Variabel pada penalaran deduktif
• Silogisme
Silogisme
adalah suatu argumen yang bersifat deduktif yang mengandung tiga proporsi
kategori yakni dua premis dan satu kesimpulan. Masing-masing premis itu yakni
premis mayor (premis umum) biasanya disingkat PU dan premis minor (premis
khusus) bisanya disingkat PK.
Kriteria silogisme sebagai barikut :
Premis
Umum (PU) : Menyatakan bahwa semua anggota golongan tertentu (semua A) memiliki
sifat atau hal tertentu (=B)
Permis
KhusuS (PK) : Menyatakan bahwa sesuatu atau seseorang itu (=C) adalah golongan
tertentu itu (=A)
Kesimpulan
(K) : Menyatakan bahwa sesuatu atau sesorang itu (=C) memiliki sifat atau hal
tersebut pada B (=B)
Silogisme
ini bagian dari penalaran deduksi. Jika dirumuskan sebagai berikut :
PU : A = B
PK
: C = A
K
: C = B
A
= semua anggota golongan tertentu
B
= sifat yang ada pada A
C
= sesorang atau sesuatu anggota A
Contoh :
Silogisme
salah yaitu silogisme yang salah satu premisnya salah atau mungkin penalarannya
salah, maka kesimpulannyapun tentu akan salah sehingga penarikan kesimpulannya
sering tidak logis dan tidak dapat dipercaya kebenarannya.
Contoh
:
PU
: Prasetyo pelajar teladan
PK
: Prasetyo putra seorang guru
K
: Putra seorang guru pasti pelajar teladan
1.
Silogisme Kategorial
Silogisme kategorial
disusun berdasarkan klasifikasi premis dan kesimpulan yang kategoris. Premis
yang mengandung predikat dalam kesimpulan disebut premis mayor, sedangkan
premis yang mengandung subjek dalam kesimpulan disebut premis minor.
Silogisme
kategorial terjadi dari tiga proposisi, yaitu:
Premis
umum : Premis Mayor (My)
Premis
khusus : Premis Minor (Mn)
Premis
simpulan : Premis Kesimpulan (K)
Aturan umum dalam silogisme kategorial sebagai berikut:
1) Silogisme harus terdiri atas tiga term yaitu : term
mayor, term minor, term penengah.
2) Silogisme terdiri atas tiga proposisi yaitu premis
mayor, premis minor, dan
kesimpulan.
3) Dua premis yang negatif tidak dapat menghasilkan
simpulan.
4) Bila salah satu premisnya negatif, simpulan pasti
negatif.
5) Dari premis yang positif, akan dihasilkan simpulan
yang positif.
6) Dari dua premis yang khusus tidak dapat ditarik satu
simpulan.
7) Bila premisnya khusus, simpulan akan bersifat khusus.
8 ) Dari premis
mayor khusus dan premis minor negatif tidak dapat ditarik satu simpulan.
Dalam simpulan terdapat subjek dan predikat. Subjek
simpulan disebut term mayor, dan predikat simpulan disebut term minor.
Contoh:
Contoh silogisme Kategorial:
My : Semua mahasiswa adalah lulusan SLTA
Mn
: Saya adalah mahasiswa
K
: Saya lulusan SLTA
2.
Silogisme Hipotesis
Silogisme yang terdiri atas
premis mayor yang berproposisi konditional hipotesis.Konditional hipotesis
yaitu, bila premis minornya membenarkan anteseden, simpulannya membenarkan
konsekuen. Bila minornya menolak anteseden, simpulannya juga menolak konsekuen.
Contoh
:
My
: Jika tidak ada makanan, manusia akan kelaparan.
Mn
: Makanan tidak ada.
K
: Jadi, Manusia akan Kelaparan.
3.
Silogisme Alternatif
Silogisme yang terdiri atas
premis mayor berupa proposisi alternatif.
Proposisi alternatif yaitu bila premis minornya membenarkan salah satu
alternatifnya. Simpulannya akan menolak alternatif yang lain.
Contoh
My : Kakak saya berada di Bandung atau Jakarta.
Mn : Kakak saya berada di Bandung.
K
: Jadi, Kakak saya tidak berada di Jakarta.
• Entimem
Entimem
adalah silogisme yang dipersingkat. Disaat tertentu orang ingin mengemukakan
sesuatu hal secara praktis dan tepat sasaran.
Contoh
:
Ø PU : Semua orang
ingin sukses harus belajar dan berdoa
Ø PK : Lisa ingin
sukses
Ø K : Lisa harus
belajar dan berdoa
Rumus
Silogisme Entinem : C = B karena C = A
• PREMIS
Pernyataan
yang digunakan sebagai dasar penarikan kesimpulan.
contoh
:
Tidak
semua manusia luput dari dosa.
• TERM
Ungkapan
pengertian dalam bentuk kata atau beberapa kata.
contoh
:
harimau
adalah karnivora
- Kesalahan Dalam Penalaran.
Kesalahan
penalaran dapat terjadi di dalam proses berpikir utk mengambil keputusan. Hal
ini terjadi karena ada kesalahan pada cara penarikan kesimpulan. Salah nalar
lebih dari kesalahan karena gagasan, struktur kalimat, dan karena dorongan
emosi.
Kesalahan
Penalaran ada dua macam:
- Kesalahan induktif, berupa :
1.
kesalahan karena generalisasi yang terlalu luas,
2.
kesalahan penilaian hubungan sebab-akibat,
3.
kesalahan analogi.
- Kesalahan deduktif dapat disebabkan :
1. kesalahan
karena premis mayor tidak dibatasi;
2. kesalahan
karena adanya term keempat;
3. kesalahan
karena kesimpulan terlalu luas/tidak dibatasi;
4. kesalahan
karena adanya 2 premis negatif.
Fakta
atau data yang akan dinalar itu boleh benar dan boleh tidak benar.
Pengertian
dan contoh kesalahan penalaran :
- Gagasan,pikiran,kepercayaan,simpulan
yang salah, keliru, atau cacat.
Dalam
ucapan atau tulisan kerap kali kita dapati pernyataan yang mengandung
kesalahan. Ada kesalahan yang terjadi secara tak sadar karena kelelahan atau
kondisi mental yang kurang menyenangkan, seperti salah ucap atau salah tulis
misalnya. Ada pula kesalahan yang terjadi karena ketidaktahuan, disamping
kesalahan yang sengaja dibuat untuk tujuan tertentu.
Kesalahan
yang kita persoalkan disini adalah kesalahan yang berhubungan dengan proses
penalaran yang kita sebut salah nalar. Pembahasan ini akan mencakup dua jenis
kesalahan menurut penyebab utamanya, yaitu kesalahan karena bahasa yang
merupakan kesalahan informal dan karena materi dan proses penalarannya yang
merupan kesalahan formal.
Berikut
ini kesalahan penalaran yang berhubungan dengan induktif, yaitu :
A.
Generelisasi terlalu luas.
Contoh
: perekonomian Indonesia sangat berkembang.
B.
Analogi yang salah
Contoh
: ibu Yuni, seorang penjual batik, yang dapat menjualnya dengan harga
terjangkau. Oleh sebab itu, ibu Lola seorang penjual batik, tentu dapat
menjualya dengan harga terjangkau.